Pertama

Sering menulis di buku catatan pribadi maupun blog sejak sekolah menengah atas, juga di media sosial apapun. Dan sebagian nanti yang aku tulis disini adalah salinan berbagai macam dari yang sudah di jelaskan di atas. Selamat datang di tulisanku, masih amatir dan belajar tiada akhir.

Iklan

Sahabat Karib #2019

Agustus tak terkejar, sedang gundah resah menggelayut pada bulan Juli. Sahabat karib adalah cita-cita, tak kunjung sampai, perihal kapan diwisuda. Ah, sial benar ketika kekalutan hanya dapat dituliskan dan ditafsirkan, sementara yang lainnya diutarakan atau bahkan di selesaikan. Memang benar, kadar kemisteriusan seseorang berbeda-beda, pun juga denganku. Tak dapat aku menampik pun menolak mentah atau mateng perihal gundah gulana. Terimakasih, pertanda masih hidup, dan tetap menjadi manusia.

Hal-hal ini terjadi

water rain wet drops
Photo by Pixabay on Pexels.com
“Memposisikan dalam segala hal adalah cara untuk membiasakan menjadi sederhanaSederhana tentang apapun, dengan siapapun, dan oleh apapunJadi sederhanakanlah semua dari diri kita untuk siapapun” Di tulis pada bulan April 2016 pada sebuah blog usang pribadi, perihal menjadi pribadi yang sederhana namun sampai saat ini masih naik turun kadar melakukannya. Susah bukan, lebih mudah membuat satu puisi galau lalu di persembahkan untuk khalayak ramai medsos-medsos hakulyakin.

“Melihat mendengar dan merasakan
Menjadi apapun disetiap kesempatan
Sederhana tanpa mengenal jeda
Apa adanya adalah hal paling menentramkan

Waktu semakin berbeda, dan kehidupan kian terasa terjal arah kedepan. Mampukah kita berada dalam situasi yang dikehendaki selama ini, atau malah kita terkubur dalam berjalannya waktu. Seperti hal-hal ini terjadi, lahir, hidup lalu mati adalah naas dari Yang Maha, maka siapkah kita? atau sudah kalah sebelum peluru terakhir melesat di medan perang yang bernama keduniawian.

 

 

Sebelum di Sabana

images (1).jpg

Pagi itu ditengah perjalanan menuju tempat mendirikan tenda, yang nampak sudah dekat, lelaki itu berjalan gontai sambil melamun di sepanjang jalur. Namun ketika mendapati ilalang sedang menguning karena terik matahari, ia pun bertanya pada ilalang yang mulai mengering itu.

 

“Hei, kenapa kau bermurung durjam? sedang langit biru dan cuaca sedang baik hari ini.”

 

Sontak, ilalang terkejut ada manusia diam-diam memperhatikan kegelisahannya.

 

“Halo manusia, iya aku sedang meratap pada gundah. Sejak gunung menjadi ramai, kaum mu seenak jidat tanpa permisi.

 

Seketika, lelaki itu penasaran dengan apa yang diucap ilalang.

 

“Kenapa engkau gundah? salah apa dengan kami. Sahut lelaki itu.

 

Dan ilalang pun memekik sambil menatap tajam kepada lelaki yang bertubuh kurus tinggi dan berkulit kuning langsat itu.

 

“Bagaimana aku tidak gundah, kaum mu tak punya tata krama ketika menginjak kakinya disini. Mereka lupa bahwa gunung bukan tempat sampah, jangan kotori alam kami sebab gunung diciptakan Tuhan bukan hanya untuk manusia saja. Kami sudah muak ketika manusia bersembunyi dibalik kami dan melakukan buang hajat banyak tisu basah ditinggal begitu saja. Terkadang ada juga yang tidak mengubur setelah selesai melakukan hajatannya. Masuklah diantara kami, dan lihatlah dibalik ilalang yang masih hijau disana. Kau akan terkejut dengan semua ini, ingatlah quote-quote bijak yang kalian unggah dimedsos tak sebanding dengan kelaluan kalian disini” cetus ilalang dengan jiwa membara bak filsuf keren sekelas Rocky Garong.

Seketika, lelaki itu terhenyak, berkeringat dingin dan gemetar akan perkataan ilalang itu. Kemudian bergegas menyenderkan karil dan berlari terberit meninggalkan ilalang yang belum selesai berfilsafat menuju rimbunnya ilalang yang hijau sambil membawa tramontina, tisu kering dan tumbler isi air. Melihat kejadian itu, ilalang marah dan mengumpat dalam hati.

 

“Woo! jingan, tiwas dikandani nganti ndakik-ndakik mah kepeseng. Asui, menungsa ndlogok!.

 

Selesai.

Sahabat Karib #2019

landscape nature sky sunset
Photo by Pixabay on Pexels.com

Cahaya terang itupun kini mulai nampak dipelupuk mata, satu yang terbela selalu, perihal kegundahan hati, nelangsa batin seorang mahasis(a)wa, tentang kini dan nanti seakan dituhankan, tentang masa studi yang segera menemui batas. Seperti biasanya, berjuang sendirian di medan pertempuran yang setan pun tidak peduli. Namun doa dari orang-orang terdekat menguatkan segalanya. Ada doa orangtua disetiap (perjuangan) skripsi, selesai tidak selesai, berjuanglah – Tshirttokoh. Bagaimanapun juga, merawat cita-cita tak akan semudah berkata-kata rencana berikutnya rajut lagi cerita, merapal doa, gas sekencangnya – FSTVLST.

Sahabat Karib #2019

alone black and white branch cold
Photo by Anton Atanasov on Pexels.com

Aku sedang bersemayam dalam sudut pandang pengetahuan yang tak terkehendaki namun harus dilalui-akui, berdialog dengan perjalanan menjemput yang terus meninggi. Hingga entah kapan datang dari tercapainya, terselesaikannya nanti. Tapi juga waktu. Dan, sialnya aku terlena menikmati sampai detik ini. Lalu kapan kau menyusun kembali setapak demi setapak yang bukan lagi buang waktu. Oh kampus, kawan karib semester akhir, bersahabatlah tahun ini.

Mengingat Harga Ucapanku

DSC_0024

Ada rasa bangga dalam diriku diam-diam ku simpan sendiri dalam hati, ketika bagaimana aku ditempa menjadi manusia yang kuat dalam segala kondisi, ku tapakkan jejak kakiku pertama kali di hadapan sang Pencipta Alam Semesta, Sang Juru Selamat ketika diriku terpuruk dan mencoba bangkit atas segala perjuanganku di tanah indah milik-Mu ini Tuhan. Dan sampai detik ini  pun aku menulis catatan di blog pribadi, bahwa aku akan terus mengingat harga ucapanku dalam sandi kata Madawirna;

1. Ku junjung MADAWIRNA sebagai nama wargaku.

Entah sampai kapanpun, bahkan maut sekalipun, aku akan terus menghargai dan menghormati para pendahulu, orang-orang yang ada di dalamnya. Menjadikan mereka sebagai saudara kandung sendiri, sebab aku pernah terpuruk berkali-kali namun Madawirna menempa diriku menjadi pribadi tangguh dalam melewati itu semua. Aku lanang, sudah paham betul bagaimana balas budi itu tetap berlaku di tanah nurani ini. Maju terus pantang mundur !